Oleh: Wahyudi Akmaliah *)
Sebuah peristiwa meskipun sudah berlalu sejak lama tak benar-benar berlalu, bagi sebagian orang peristiwa tersebut bisa menjadi ingatan personal dan kolektif. Bila berdampak besar, peristiwa itu bisa menjadi ingatan sosial, yaitu direproduksi dan dibicarakan oleh kebanyakan orang. Tapi demikian, ingatan sosial yg direpresi oleh tiap individu memiliki torehan makna yg berbeda. Nah, torehan makna ni yg seringkali diartikulasikan dlm ruang publik terkait dgn cara orang bersikap mengenai sebuah kejadian ataupun membicarakan tokoh tertentu. Dalam membicarakan perpolitikan di Indonesia, tiap individu masyarakat memiliki ingatan yg berdampak dlm mereka bersikap dan membangun relasi kepada momen yg diingat tersebut. Di sini, momen yg diingat biasanya ada dua, momen baik dan kontroversi/buruk.
Terkait hal tersebut, ada dua tokoh politik yg cukup kontroversial di Indonesia, Gusdur dan Amien Rais. Keduanya ni adlh produk zaman dan sekaligus penentang rejim Orde Baru. Di sini, selain turut mengalami atsmosper kehidupan rejim Orde Baru yg otoriter dan terpusat dgn sokongan partai golkar sebagai kendaraan politik, militer, khususnya ABRI sebagai kekuatan pengamanan dan penggebuk, serta jaringan keluarga dan pertemanan dlm mengambil-alih keuntungan ekonomi negara, keduanya dgn kontribusi masing-masing (Gusdur sebagai ketua PBNU dan Amien Rais sebagai Ketua PP Muhammadiyah) justru turut menumbangkan jatuhnya Suharto dari kursi presiden pd 21 mei 1998. Tapi tindakan dan nilai kontroversi yg mereka lakukan tidaklah memiliki pijakan yg sama, khususnya sikap politik mereka pasca rejim Orde Baru.
Gusdur dgn sikap terbuka seringkali dianggap kontroversial karena keberpihakannya terhadap mereka yg tertindas dan termarginalkan serta menyuarakan apa yg dianggapnya benar. Ketika menjadi presiden, misalnya, salah satu kebijakan yg dianggap kontroversi adlh saat ia meminta maaf kepada korban dan keluarga korban peristiwa 1965-1966 dan berniat menghapus Tap MPRS XXV/1966 terkait dgn pembubaran PKI dan larangan untk mempelajari paham dan ajaran mengenai Komunisme, Marxisme dan Leninisme. Usai dilengserkan dari kursi presiden dgn dalih Brunnaigate dan Buloggate oleh DPR dan MPR, sikap keberpihakannya terhadap kelompok minoritas tak berhenti. Ia dgn lantang bersikap keras bahwa selama ia masih hidup akan terus membela Ahmadiyah. Hal ni disampaikan ketika FPI melakukan penyerangan kepada kelompok Ahmadiyah. Selain karena keteguhan pendiriannya, adanya modal kapital yg kuat (mantan ketua PBNU dan cucu dari KH Hasyim As’ari) turut memperkuat posisi dan sikap politiknya dlm membela mereka yg tertindas.
Berbeda dgn Gusdur, Amien Rais dianggap kontroversial justru karena tindakan politiknya yg dianggap bernilai inkonsisten. Hal ni karena dua hal. Pertama, Gusdur adlh orang yg diminta dan dibujuk untk menjadi presiden keempat melalui poros tengah (gabungan partai-partai Islam) oleh Amien Rais yg saat itu menjadi ketua MPR. Dengan dalih Buloggate dan Bruneigate, sebagai representasi dan ketua MPR, justru Amien Rais-lah yg mencabut mandat Gusdur untk berhenti menjadi presiden dan digantikan Megawati. Kedua, saat era reformasi, Amien Rais bersikap lantang untk membawa Prabowo ke Mahmilub terkait dgn dugaan tindakan pelanggaran HAM yg dilakukannya. Namun, dlm Pemilihan Presiden 2014, sebagai ketua Majelis Pertimbangan Amanah PAN, ia justru mendukungnya sebagai calon Presiden RI di tengah menyurutnya demokrasi Indonesia dgn kembalinya para petualang politik dan oligarkis rejim Orde Baru. Posisinya yg dianggap sebagai “king maker” di balik krisis politik Indonesia dgn kemenangan dominan koalisi Merah Putih di MPR dan DPR memperkuat arus kontroversi sebelumnya.
Peristiwa penembakan mobil Amien Rais di rumahnya pd hari Kamis (6/11/2014) memunculkan kontestasi ingatan invidu dan kolektif yg beragam; bagi kebanyakan pendukungnya, kebanyakan berasal dari anggota Muhammadiyah, itu bukan sekedar penembakan tapi bentuk tindakan kekerasan terhadap tokoh Amien Rais. Ada jg yg menganggap bahwa hal itu memiliki kaitan dgn sikap politiknya dlm level nasional. Sementara bagi yg memiliki ingatan buruk tentangnya, mereka hanya terdiam; antara tak menyetujui tindakan terror tersebut tapi di satu sisi mereka memiliki ingatan buruk tentang tindakan politik Amien Rais. Terkait dgn kontestasi ingatan individu dan kelompok semacam ni upaya untk mencegah tindakan provokasi lebih besar adlh dgn menguraikannya, yaitu dgn mengusut pelaku kriminal tersebut, apakah memiliki kaitan dgn tindakan politik Amien Rais pd level nasional ata sekedar orang iseng yg mengekspresikan kekesalannya pd ruang dan tempat yg salah.
Dengan demikian, terkait dgn artikulasi ingatan, insiden itu bisa dibaca diartikan dua hal. Peristiwa itu bisa dilihat sebagai bentuk peringatan kepada sosok Amien Rais terkait dgn sikap kontroversialnya dlm politik nasional yg dianggap merugikan pihak lain, di sisi lain, itu jg menunjukkan kepada mereka yg memiliki referensi ingatan yg buruk bahwa Amien Rais, terlepas dari sikap pilihan politiknya, adlh tokoh besar, bagi sebagian orang, di mana ia pernah memberikan sumbangsih positif untk Muhammadiyah dan Indonesia. Sementara itu, bagi Gusdur-ian, artikulasi ingatan yg dibangun oleh orang-orang yg memiliki ingatan yg baik tentangnya, adlh membangun situs-situs kelompok Gusdurian untk menyebarkan ide-ide advokasi, toleransi, persamaan, dan perdamaian, khususnya kepada mereka yg kerap dianggap lain, baik secara etnis, aliran, agama, maupun ekonomi.
*) Wahyudi Akmaliah adlh Peneliti PMB-LIPI dan Alumnus Madrasah Muallimin Muhammadiyah (1999)
Retrieved from: http://anakpanahinstitute.org/amien-rais-dan-gusdur-dalam-ingatan-publik/
Sebuah peristiwa meskipun sudah berlalu sejak lama tak benar-benar berlalu, bagi sebagian orang peristiwa tersebut bisa menjadi ingatan personal dan kolektif. Bila berdampak besar, peristiwa itu bisa menjadi ingatan sosial, yaitu direproduksi dan dibicarakan oleh kebanyakan orang. Tapi demikian, ingatan sosial yg direpresi oleh tiap individu memiliki torehan makna yg berbeda. Nah, torehan makna ni yg seringkali diartikulasikan dlm ruang publik terkait dgn cara orang bersikap mengenai sebuah kejadian ataupun membicarakan tokoh tertentu. Dalam membicarakan perpolitikan di Indonesia, tiap individu masyarakat memiliki ingatan yg berdampak dlm mereka bersikap dan membangun relasi kepada momen yg diingat tersebut. Di sini, momen yg diingat biasanya ada dua, momen baik dan kontroversi/buruk.Terkait hal tersebut, ada dua tokoh politik yg cukup kontroversial di Indonesia, Gusdur dan Amien Rais. Keduanya ni adlh produk zaman dan sekaligus penentang rejim Orde Baru. Di sini, selain turut mengalami atsmosper kehidupan rejim Orde Baru yg otoriter dan terpusat dgn sokongan partai golkar sebagai kendaraan politik, militer, khususnya ABRI sebagai kekuatan pengamanan dan penggebuk, serta jaringan keluarga dan pertemanan dlm mengambil-alih keuntungan ekonomi negara, keduanya dgn kontribusi masing-masing (Gusdur sebagai ketua PBNU dan Amien Rais sebagai Ketua PP Muhammadiyah) justru turut menumbangkan jatuhnya Suharto dari kursi presiden pd 21 mei 1998. Tapi tindakan dan nilai kontroversi yg mereka lakukan tidaklah memiliki pijakan yg sama, khususnya sikap politik mereka pasca rejim Orde Baru.
Gusdur dgn sikap terbuka seringkali dianggap kontroversial karena keberpihakannya terhadap mereka yg tertindas dan termarginalkan serta menyuarakan apa yg dianggapnya benar. Ketika menjadi presiden, misalnya, salah satu kebijakan yg dianggap kontroversi adlh saat ia meminta maaf kepada korban dan keluarga korban peristiwa 1965-1966 dan berniat menghapus Tap MPRS XXV/1966 terkait dgn pembubaran PKI dan larangan untk mempelajari paham dan ajaran mengenai Komunisme, Marxisme dan Leninisme. Usai dilengserkan dari kursi presiden dgn dalih Brunnaigate dan Buloggate oleh DPR dan MPR, sikap keberpihakannya terhadap kelompok minoritas tak berhenti. Ia dgn lantang bersikap keras bahwa selama ia masih hidup akan terus membela Ahmadiyah. Hal ni disampaikan ketika FPI melakukan penyerangan kepada kelompok Ahmadiyah. Selain karena keteguhan pendiriannya, adanya modal kapital yg kuat (mantan ketua PBNU dan cucu dari KH Hasyim As’ari) turut memperkuat posisi dan sikap politiknya dlm membela mereka yg tertindas.
Berbeda dgn Gusdur, Amien Rais dianggap kontroversial justru karena tindakan politiknya yg dianggap bernilai inkonsisten. Hal ni karena dua hal. Pertama, Gusdur adlh orang yg diminta dan dibujuk untk menjadi presiden keempat melalui poros tengah (gabungan partai-partai Islam) oleh Amien Rais yg saat itu menjadi ketua MPR. Dengan dalih Buloggate dan Bruneigate, sebagai representasi dan ketua MPR, justru Amien Rais-lah yg mencabut mandat Gusdur untk berhenti menjadi presiden dan digantikan Megawati. Kedua, saat era reformasi, Amien Rais bersikap lantang untk membawa Prabowo ke Mahmilub terkait dgn dugaan tindakan pelanggaran HAM yg dilakukannya. Namun, dlm Pemilihan Presiden 2014, sebagai ketua Majelis Pertimbangan Amanah PAN, ia justru mendukungnya sebagai calon Presiden RI di tengah menyurutnya demokrasi Indonesia dgn kembalinya para petualang politik dan oligarkis rejim Orde Baru. Posisinya yg dianggap sebagai “king maker” di balik krisis politik Indonesia dgn kemenangan dominan koalisi Merah Putih di MPR dan DPR memperkuat arus kontroversi sebelumnya.
Peristiwa penembakan mobil Amien Rais di rumahnya pd hari Kamis (6/11/2014) memunculkan kontestasi ingatan invidu dan kolektif yg beragam; bagi kebanyakan pendukungnya, kebanyakan berasal dari anggota Muhammadiyah, itu bukan sekedar penembakan tapi bentuk tindakan kekerasan terhadap tokoh Amien Rais. Ada jg yg menganggap bahwa hal itu memiliki kaitan dgn sikap politiknya dlm level nasional. Sementara bagi yg memiliki ingatan buruk tentangnya, mereka hanya terdiam; antara tak menyetujui tindakan terror tersebut tapi di satu sisi mereka memiliki ingatan buruk tentang tindakan politik Amien Rais. Terkait dgn kontestasi ingatan individu dan kelompok semacam ni upaya untk mencegah tindakan provokasi lebih besar adlh dgn menguraikannya, yaitu dgn mengusut pelaku kriminal tersebut, apakah memiliki kaitan dgn tindakan politik Amien Rais pd level nasional ata sekedar orang iseng yg mengekspresikan kekesalannya pd ruang dan tempat yg salah.
Dengan demikian, terkait dgn artikulasi ingatan, insiden itu bisa dibaca diartikan dua hal. Peristiwa itu bisa dilihat sebagai bentuk peringatan kepada sosok Amien Rais terkait dgn sikap kontroversialnya dlm politik nasional yg dianggap merugikan pihak lain, di sisi lain, itu jg menunjukkan kepada mereka yg memiliki referensi ingatan yg buruk bahwa Amien Rais, terlepas dari sikap pilihan politiknya, adlh tokoh besar, bagi sebagian orang, di mana ia pernah memberikan sumbangsih positif untk Muhammadiyah dan Indonesia. Sementara itu, bagi Gusdur-ian, artikulasi ingatan yg dibangun oleh orang-orang yg memiliki ingatan yg baik tentangnya, adlh membangun situs-situs kelompok Gusdurian untk menyebarkan ide-ide advokasi, toleransi, persamaan, dan perdamaian, khususnya kepada mereka yg kerap dianggap lain, baik secara etnis, aliran, agama, maupun ekonomi.
*) Wahyudi Akmaliah adlh Peneliti PMB-LIPI dan Alumnus Madrasah Muallimin Muhammadiyah (1999)
Retrieved from: http://anakpanahinstitute.org/amien-rais-dan-gusdur-dalam-ingatan-publik/
0 Response to "Amien Rais dan Gusdur Dalam Ingatan Publik"
Post a Comment